Harga Minyak Hantui Industri Penerbangan

Ilustrasi: Pesawat Boeing 737 milik maskapai penerbangan Garuda Indonesia di Terminal 3, Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, Rabu (2/2/2011).


KOMPAS.com — Terus melonjaknya harga minyak mentah dunia menghantui industri penerbangan. Terlebih lagi, kenaikan harga minyak acap kali berlangsung sangat cepat.

Sepuluh tahun lalu, komponen bahan bakar hanya memberikan kontribusi 14 persen dari rata-rata pengeluaran, tetapi sekarang mencapai 34 persen.

Tingginya harga bahan bakar, menurut laporan wartawan Kompas, Hermas E Prabowo, dari Beijing, hari Minggu (10/6/2012) ini, akan menjadi salah satu isu penting dalam pertemuan tahunan ke-68 World Air Transport Summit di Beijing, China, pada 11-12 Juni 2012. Avtur merupakan bahan bakar yang dipakai maskapai penerbangan.

Menurut Direktur Jenderal dan CEO Organisasi Penerbangan Sipil Internasional (IATA), Tony Tyler, dalam keterangannya yang diterima Kompas, salah satu isu utama yang dihadapi industri penerbangan saat ini adalah tingginya harga minyak.

Prediksi keuangan industri penerbangan bulan Maret 2012 lalu oleh IATA didasarkan atas rata-rata harga minyak mentah dunia 115 dollar AS per barrel. Untuk lima bulan pertama tahun ini, harga minyak Brent rata-rata di bawah 118 dollar AS per barrel. Pada beberapa kejadian, harga di pasar spot di bawah 100 dollar AS. Ini sinyal bagus bagi maskapai.

Namun, Tony mengingatkan betapa dramatisnya kenaikan biaya operasional, sebagai dampak kenaikan bahan bakar bagi maskapai. Saat ini komponen bahan bakar menyumbang 34 persen dalam rata-rata pengeluaran. Sepuluh tahun lalu hanya 14 persen.

Apa yang terjadi, peristiwa-peristiwa politik di luar kendali industri penerbangan, dapat mendorong kenaikan harga bahan bakar secara cepat.

Dalam paparan keuangan terakhir pada Maret lalu, IATA memperkirakan bahwa saat itu keuntungan industri penerbangan diperkirakan hanya 3 miliar dollar AS dari total pendapatan 633 miliar dollar AS. Margin keuntungan tipis, hanya 0,5 persen.

Keuntungan terbesar industri penerbangan dicapai pada 2010, yaitu sebesar 15,8 miliar dollar AS, sedangkan tahun 2011 hanya separuhnya, yakni 7,9 miliar dollar AS.

Selain soal bahan bakar, isu penting lainnya terkait ekonomi global. Krisis keuangan yang menimpa Eropa akan berdampak terhadap industri penerbangan.

Dalam perkiraan Maret 2012, IATA menghitung Eropa merugi 600 juta dollar AS, Asia Pasifik untung 2,3 miliar dollar AS, Amerika Utara untung 900 juta dollar AS, Timur Tengah untung 500 juta dollar AS, Amerika Latin untung 100 juta dollar AS, dan Afrika rugi 100 juta dollar AS.

sumber : kompas.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s